Gambar Ilustrasi

POJOKSURAMADU.COM – Kerusakan dan kebobrokan ethical mengancam masa depan generasi kita. Belum usai penyidikan kasus pemerkosaan di Kecamatan Kokop, Bangkalan yang dilakukan oleh Eight orang dengan 2 pelaku di antaranya masih di bawah umur, di susul kemudian oleh kasus pemerkosaan di Modung dan dugaan pelecehan di Klampis.

Ditambah lagi berita-berita tentang penggerebekan pesta seks sekumpulan remaja di beberapa tempat selayaknya cukup menjadi dalil untuk menunjukkan kondisi darurat yang membutuhkan perhatian serius berbagai pihak saat ini.

Berita-berita tragis tindak asusila dan kriminalitas yang dilakukan remaja beberapa hari ini berselang-seling dengan berita-berita penguatan pengarusutamaan moderasi Islam yang sedang digalakkan oleh Kementrian Agama melalui revisi, pemaknaan ulang dan reposisi terhadap beberapa materi pelajaran Agama Islam yang dianggap radikal dan tidak relevan dengan zaman saat ini.

Penghapusan, revisi, pemaknaan ulang atau pun reposisi materi-materi yang dianggap radikal inilah yang dianggap tidak lazim oleh banyak pihak. Terdapat kekhawatiran dan dugaan kuat bahwa langkah ini bukanlah solusi yang tepat untuk menyelesaikan persoalan generasi saat ini, bahkan hal tersebut justru dipandang sebagai upaya penyesatan sistematis terhadap ajaran Islam.

Juga potensi untuk menghasilkan kurikulum pendidikan anti Islam, kurikulum yang sebelumnya menjadi rujukan untuk mendorong anak-anak untuk memperjuangkan tegaknya Islam akan diganti oleh kurikulum yang mendorong generasi ini untuk mengganti Islam dengan sistem buatan manusia.

Islam Wasathiyah sebagai Solusi?

Pasca diselenggarakannya KOnsultasi Tingkat Tinggi Ulama dan Tokoh Intelektual Muslim di Bogor pada Mei 2018 negeri ini memang semakin bersemangat mengutamakan wasathiyah (moderasi) Islam.

Laman: 1 2 3

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here