KARTONO RYADI

Pada masa krisis ekonomi, banyak cara digunakan warga Jakarta untuk mempertahankan hidupnya. Salah satunya dengan berjualan makanan di tepi jalan dengan kereta dorong atau mobil, seperti terlihat di Jakarta Utara, Juli 1998.

Situasi politik tahun 1996 sudah mulai memanas. Setahun berikutnya kian panas. Ekonomi yang semula baik-baik saja mulai memunculkan masalah. Semuanya kemudian berujung pada reformasi tahun 1998.

Bekerja di sebuah media tak lantas begitu saja membantu memahami berbagai kejadian itu. Apalagi bagi kami yang berada di daerah. Pada masa itu, sebagian besar isu tersebut lebih bisa dipahami oleh mereka yang berada di Ibu Kota.

Belum ada web seperti sekarang yang bisa membantu kami di daerah untuk mengintip berbagai isu Tanah Air ataupun world. Namun, kadang ketidaktahuan itu malah membawa berkah. Setidaknya menjadi tenang dan tidak panik.

Ekonomi yang semula baik-baik saja mulai memunculkan masalah. Semuanya kemudian berujung pada reformasi tahun 1998.

Saya mengawali tugas di Kompas sebagai calon koresponden alias cakor pada 1997. Saat itu, jenjang wartawan Kompas dimulai dari cakor, lalu koresponden lepas, koresponden tetap, baru wartawan tetap. Sekarang, jenjang diawali dari wartawan mula yang diawali dengan masa magang satu tahun. Setelah itu, berlanjut ke wartawan muda, madya, utama, dan seterusnya.

Daerah penempatan pertama saya di Biro Jawa Barat dengan cakupan wilayah liputan Bandung dan sekitarnya. Namun, kadang-kadang saya juga harus ke luar kota, seperti Sukabumi, Cirebon, dan Tasikmalaya.

Saya menjalani tugas sebagai cakor dengan semangat tinggi karena saat itu kami masih digaji berdasarkan jumlah berita. Mau dapat penghasilan banyak, ya setoran berita harus banyak.

Laman: 1 2 3

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here